Selasa, 04 Juni 2013

Sampai Detik Ini...


 Bu, sampai saat ini aku tak pernah bisa melihatmu meskipun aku ingin dan rasa sakit itu selalu menjadi sengatan terhebat yang pernah aku rasakan selama hidupku. Bu, aku tahu ini akan sangat sulit untukmu. Tapi perasaan ini mengalahkan segalanya, aku marah dan benci pada wanita yang melahirkan dan membesarkanku selama 25 tahun.

Mimpi buruk itu tiba-tiba terulang kembali dalam ingatanku, dimana ayah tiriku datang dalam keadaan mabuk berat dan mencoba membunuhku saat ibu tak ada di rumah dan rumah dalam keadaan sepi. Aku yang saat itu sedang membereskan kamarku, benar-benar ketakutan karena untuk pertama kalinya berhadapan dengan pria tua yang membawa pisau dan berusaha menghujamkannya ke tubuhku. Meski rasa takutku semakin menjadi, aku berusaha sekuat tenaga agar pria mabuk itu menghentikan keinginannya menusukku. Aku berteriak minta tolong beberapa kali dan tak seorang pun datang, mata tajam pria tua itu semakin membuatku takut dan menangis. Dia terus bergumam “Dasar gadis bodoh, gak berguna! Mati aja sana “. Ku pikir pria ini memang sudah gila, kenapa dia terlihat sangat membenciku saat itu. Ibu yang tiba-tiba datang sempat mencoba menghentikan perbuatan ayah tiriku, dan hasilnya ibuku mendapat pukulan keras tangan kekar pria tua itu. Ibu bergegas mengubungi polisi, dan saat polisi datang aku sudah berhasil melumpuhkan ayah tiriku. Dengan posisi tanganku yang bersimbah darah dan pisau hasil rebutanku dengan pria kejam ini. Pria tua kejam itu sudah terkapar tak bernyawa dengan darah di bagian dadanya yang terus mengalir. Aku bingung, takut dan gemetar hebat, aku tak pernah ingin membunuh siapa pun, bu.

Inilah kisahku, kisah pahit seorang perempuan menyedihkan yang hidup di antara keluarga yang menyedihkan juga. Sejak 3 tahun lalu, aku harus menghadapi kejamnya hidup di balik jeruji penjara wanita. Aku masih sangat trauma dan takut saat pertama kali masuk ke dalam ruangan pengap yang penuh dengan bau tidak sedap. Ibuku lah yang berhasil memaksaku menikmati hari-hari kelam di penjara. Aku mencintainya, dulu. Dan aku sangat membencinya, sekarang.

“ Arlina… keluarlah! Ibumu datang menjengukmu “ ujar salah seorang polisi wanita yang berjaga saat itu, sambil membuka gembok jeruji. Aku terdiam, “ Aku gak mau! “ jawabku tegas, sebelumnya aku sudah sering mengatakan pada setiap polisi wanita yang berjaga, bahwa aku tidak akan menemui siapa pun yang datang menjengukku, terutama ibu. Saat itu aku benar-benar sangat marah dan tidak kuasa melampiaskan amarahku pada siapa pun, termasuk polisi wanita bernama Gita yang tidak lain adalah sahabatku sejak SD ini. 

Ibu selalu datang dengan sebuah kotak makanan yang selalu dia siapkan setiap kali datang menjengukku. “Bu, jangan semakin membuat mataku kering. Air mataku sudah habis terkuras hanya untukmu, tidak bisakah ibu membiarkan aku bahagia meskipun di dalam penjara. Jangan pernah datang lagi, anggap saja anakmu sudah mati. Aku tak ingin kebencianku semakin memuncak saat melihat ibu datang dan pulang dengan perasaan kecewa. Aku tak pernah tahu, sampai kapan aku akan seperti ini…”

Hari dimana untuk yang kesekian kalinya sidang kasusku, ibu datang sebagai saksi dan mengatakan akan melakukan apa pun untuk membebaskanku dari penjara. Gita juga berkata, bahwa dia sering melihat ibuku berjualan makanan di dekat kantor polisi. Gita selalu memperhatikan apa pun yang ibuku lakukan, sampai aku benar-benar tak akan melihatnya lagi. Gita menemukan ibuku terkapar tak bernyawa di depan kantor polisi saat hujan deras melanda. Lengkap dengan bekal yang biasa ibu bawa untukku dan sepucuk surat dari ibu yang mengatakan bahwa “…Gunakan waktumu sebaik mungkin untuk berbuat baik selama di penjara, nak! Ibu berjanji akan segera mengeluarkanmu, ibu tidak tahan jauh dari putri ibu satu-satunya. Untuk terakhir kalinya ibu minta maaf, nak! Maafkan ibu…”

Jumat, 15 Februari 2013

FIRST

Perjalanan panjang seorang gadis bernama Zyan Brytania, bukan sosok gadis cantik dan bukan gadis yang menarik hati setiap laki-laki yang melihatnya. Dia lebih banyak diam dan menuliskan apa yang dia rasakan pada sebuah buku tebal yang dia sebut "Uno". Dalam bahasa Italia, Uno berarti satu. Ibunya memberi buku kosong itu saat ibunya merasa bahwa Zyan seharusnya tidak diam dengan apa yang dia rasakan. Apapun yang terjadi padanya di sekolah, ibunya berharap Zyan mau menumpahkan semua kejadian yang dia alami di buku itu. Dan benar saja, Zyan memang mulai menulis sejak kelas 1 SMP. Sejak saat itu juga dia mengenal Andika sebagai cinta pertamanya, Zyan sadar bahwa tak akan ada kemungkinan Andika akan melihatnya bahkan membalas cintanya, tapi dia punya tekad kuat untuk menetapkan hatinya hanya pada Andika. 
Saat itu, Andika adalah kakak kelas Zyan. Zyan yang masih kelas 1 SMP, belum tahu banyak dan mengerti tentang apa itu cinta. Namun saat dia melihat Andika dari dekat, melihat Andika tersenyum padanya dan sifat rendah dirinya yang luar biasa, membuat hati Zyan terusik untuk mengenal Andika lebih dekat. Zyan sadar, hari-harinya akan di penuhi dengan perjuangan panjang saat pertama kali dia mengenal Andika, bukan tidak mungkin jika suatu saat, dia akan menangis karena sakit hati, bertingkah bodoh untuk menarik perhatian Andika dan yang terakhir membuat Zyan tidak lulus Ujian Nasional waktu itu. Belum cukup sampai di situ, untuk ketidaklulusannya mengerjakan ujian nasional, Zyan juga mendapat hadiah tentang berita Andika yang sudah menjalin hubungan dengan kakak kelasnya dan yang membuat Zyan lebih sakit dari pada menerima kenyataan tidak lulus ujian nasional adalah kakak kelas yang di maksud sebagai pacar Andika saat itu adalah gadis yang dia kenal sangat baik, namanya Sina dan Zyan biasa memanggilnya mbak Sina. 
Saat itu, hati Zyan benar-benar merasakan sakit untuk yang pertama kalinya. Dia sadar ini akan terjadi, tapi dia tidak pernah siap untuk merasakannya. Meskipun begitu, sakit hati tak membuatnya jera. Banyak hal yang dia lakukan untuk mengobati luka di hatinya, termasuk menerima cinta dari laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai. Tapi yang ada justru perasaan bersalah pada laki-laki itu dan bagaimana pun Zyan mencoba, rasa sakitnya tetap ada hingga 8 tahun lamanya.
Tak ada seorang pun yang tahu tentang tindakan bodoh Zyan dan pengorbanan berat Zyan untuk Andika, Zyan bahkan hanya mau bercerita pada "Uno" dan seorang teman lamanya waktu SD yang saat itu pindah sekolah ke Jerman mengikuti ayahnya yang seorang duta besar Indonesia untuk Jerman. 
Zyan selalu ingat kapan ulang tahun Andika, warna kesukaannya bahkan kebiasaannya memakai jaket kemana pun dia pergi. Dulu Zyan sempat punya foto saat bersama Andika dan teman-temannya yang lain di sekolah, tapi foto itu hanya satu-satunya dan terbakar sebelum sempat tercetak. Akhirnya, Zyan hanya punya nomor ponsel Andika. Tapi dia tak pernah berani menghubungi Andika, hanya sesekali dan itu saja membuatnya sangat gugup dan takut.
Delapan tahun berturut-turut, Zyan tak pernah lupa dengan hari ulang tahun Andika. Dia selalu ingin memberi hadiah ulang tahun untuk Andika, meskipun Andika tak sekali pun ingat hari ulang tahunnya. Ada 8 surat yang tak pernah sampai di tangan Andika, karena Zyan tak pernah punya keberanian untuk menyampaikannya. Bahkan hadiah ulang tahun pun dia sampaikan lewat perantara orang lain dan tanpa pesan. Zyan merasa sangat senang melakukan semua ini untuk orang yang sangat dia sayangi, walaupun pada kenyataannya Andika akan beranggapan bahwa harga dirinya sebagai perempuan sudah jatuh di depannya. Tapi itu hanya untuk Andika, dan pada laki-laki lain Zyan terbilang sangat tidak mau peduli. 
Tanpa Andika sadari, Zyan lebih sering menangis karenanya dari pada karena siapa pun, kecuali orang tua dan keluarganya. Hingga suatu ketika, Zyan merasa sudah sangat pasrah dengan keadaannya. Dia tahu mungkin Andika memang bukan jodohnya, meskipun Andika terlalu sering muncul dalam mimpinya di bandingkan dengan laki-laki yang menjadi kekasihnya sekarang. Menjelang hari ulang tahun Andika, Zyan memberanikan dirinya memberi hadiah pada Andika langsung ke rumahnya. Zyan sempat merasa sangat gugup, takut dan bahkan dia terus-terusan merasa sakit perut selama perjalanan menuju rumah Andika, Zyan juga merasakan tangan dan kakinya dingin. Begitu Zyan berhasil menguatarakan tujuannya datang ke rumah Andika dan memberikan hadiah pada Andika, Zyan memang merasa sangat lega. Tapi jawaban Andika sangat aneh, dia hanya mengucapkan terima kasih pada Zyan dengan atau tanpa tersenyum sedikit pun dan membuat Zyan sempat bingung.
Kebingungan yang di rasakan Zyan segera ia tepis, dia lebih memilih untuk tidak mengingat Andika lagi. Dia berusaha konsentrasi pada belajarnya dan menyimpan "Uno" baik-baik. 
Empat tahun kemudian, semuanya berubah. Zyan kembali ke kampung halamannya, bersama ayah dan ibunya. Begitu sampai rumah, dia langsung menemui teman-teman lamanya. Dan kejutan, saat itu teman lamanya yang sudah cukup lama di Jerman, kembali untuk menemui Zyan. Dia bahkan tak sendiri datang kerumah Zyan tapi bersama Andika, itu yang dia harapkan sebagai kejutan hebat untuk Zyan. 
"Siapa dia???" pertanyaan yang seharusnya tidak terucap dari bibir Zyan, tiba-tiba muncul dan menjadi tanda tanya besar di benak Andika dan Mala. "Apa yang terjadi dengan Zyan? Hingga dia menanyakan tentang siapa Andika?" ibu Zyan yang saat itu mendengar juga sangat terkejut, kenapa Zyan tidak mengingat Andika? padahal...
Saat itulah, ibu Zyan teringat sesuatu. Mungkinkah karena kecelakaan 3 tahun lalu di Korea? yang membuat Zyan hanya tidak mengingat Andika. Mungkinkah ini yang di sebut amnesia kolektif dalam dunia medis? 
Keesokan harinya, ayah dan ibu Zyan beserta Andika dan Mala memeriksakan Zyan ke rumah sakit. Dan benar saja, Zyan memang menderita amnesia yang disebut-sebut hanya terjadi pada seseorang yang merasa sakit hati, marah, atau kesal pada orang tersebut. Ibu Zyan selalu membaca setiap tulisan yang baru di tulis Zyan dulu dan semuanya tentang Andika. Jelas ibu Zyan merasakan betul, bagaimana perasaan Zyan saat itu. 
Tapi bagaimana Andika bisa datang dengan Mala saat itu? Jelas saja, Mala ternyata adalah adik sepupu Andika dan Zyan tidak pernah tahu itu sampai kecelakaan membuatnya benar-benar melupakan Andika. Semua sedih, bahkan Andika sangat merasa bersalah karena kebodohannya tidak pernah melihat ketulusan hati Zyan. Andika sebenarnya sudah tahu sejak dulu tentang Zyan yang sangat menyukainya, dia mulai sadar waktu Mala menceritakan tentang Zyan dan apa yang di ceritakan Mala tentang Zyan, kejadiannya sama persis dengan apa yang dia alami dengan Zyan, hanya saja waktu itu Mala tidak menyebutkan nama Zyan saat bercerita, Mala selalu menyebut Zyan "B.G" singkatan dari kata "Bad Girl" yang berarti "Gadis Buruk". 
Pada saat Andika menerima kado terakhir dari Zyan, Andika merasa sangat bimbang dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia bahkan tidak merasakan apa-apa pada Zyan. Tapi hatinya benar-benar luluh setelah Mala memberikan Andika "Uno" milik Zyan, Mala sendiri mendapatkannya dari ibu Zyan. Di dalam "Uno" itu juga ada 8 surat yang tak pernah sampai di tangan Andika. Hanya satu harapan ibu Zyan, beliau ingin Andika tahu ketulusan hati anaknya. 
Tapi setelah Andika tahu semuanya, keadaan justru berbalik. Zyan benar-benar tidak mengingat Andika sama sekali. Yang Zyan rasakan hanya sakit kepala yang hebat, mual dan dadanya sesak saat melihat Andika datang ke rumahnya. Zyan hanya mau bercanda, dan bicara dengan orang-orang yang dia ingat saja. 
Di sinilah, Andika justru mulai merasakan apa yang dirasakan Zyan. Bahkan saat Zyan bersama laki-laki yang sudah menemaninya selama 2 tahun terakhir ini, Andika memang sangat sakit dan tak bisa berbuat banyak. Namun Andika mulai berpikir, jika sakit hati ini rasanya lebih sakit dari apa pun, maka inilah perasaan Zyan dan Andika memang luluh karena Zyan, dia memang jatuh cinta pada Zyan bukan kasihan.

"Memang benar jika cinta tak harus memiliki, tapi cinta patut di perjuangkan. Menjadi perempuan memang tak harus terus menunggu, jika dia mulai mengusik hatimu, kejarlah sampai dapat. Jika tak dapat, biarkan perjuanganmu menjadi kisah indah untuk diri sendiri" Zyan Brytania

Selasa, 25 Desember 2012

Me and Dear Friends

Kali ini, aku mau sedikit curhat tentang orang-orang yang selama ini membantuku untuk tetap hidup menjadi lebih baik. 
Ini aku dan hidupku, aku di lahirkan sebagai seorang gadis yang memiliki banyak kekurangan. Bukan dalam segi fisikku yang sempurna, tapi kekuatan otakku yang sulit menjangkau tingkat cerdas.
Untuk yang pertama, ku perkenalkan orang-orang baik hati yang melahirkanku, mendidikku, hingga mengajarkanku banyak hal tentang hidup.
Aku adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahku bekerja sebagai PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) di Kantor Department Agama wilayah Kabupaten Blitar. Ibuku yang kebanyakan awet muda dan cantik ini, sangat kreatif dan pandai memasak dan berdandan. Sejak kecil, aku dan adikku memanggil mereka berdua dengan sebutan Abah dan Umi. Ke perkenalkan adikku yang pertama, namanya Lia tepatnya Nur Isna Aulia, cantik, dewasa dan cerdas begitulah seperti kebanyakan orang bilang, dia gak pantes jadi adikku hanya karena tubuhku yang lebih kecil dari dia. Adikku yang kedua adalah seorang anak laki-laki gagah, Izzul Musthofa. tapi sifatnya gak segagah penampilannya, jahil, mandinya paling lama, makannya pilih-pilih dan 1 hal yang memvbuatnya terlihat gak wajar, bawelnya yang melebihi bawelnya cewek.

Dan yang ketiga ini, bisa di sebut anak ajaib. Paling nakal, dan berani dalam banyak hal. Cakep sih kata orang, but...ya begitulah jalan pikirannya sulit di tebak. Tapi semenjak masuk pesantren, kenakalannya jadi gampang di kontrol, itulah Zen Manshur. Adikku yang terakhir ini, pali imut dan blak-blakan. Dia paling gak bisa nyembunyiin sesuatu yang gak perlu di sembunyiin. 
Paling manja, tapi gak mau di bilang manja. 
Di TK tempat aku sekolah, memang banyak banget sejarahnya yang masih aku ingat sampe sekarang. Mulai dari temenku yang suka ngompol di sekolah, sampe aku yang gak pernah duduk di bangku nol kecil, karena tempatnya yang gelap. 
Begitu juga waktu di SD, aku punya banyak cerita dan pengalaman selama jadi anak SD. Mulai dari punya temen yang gak pernah bisa naik kelas gara-gara bodohnya dia gak ketulungan sampe di suruh guru nulis 70 soal tanpa di koreksi sama guru. 
Selepas SD, aku pengen banget masuk SMP N 3 Blitar. Karena teman-temanku banyak yang masuk sana. Tapi abah gak ngizinin dan akhirnya aku di daftarin di MTs N Blitar, itu adalah madrasah favorit se kota Blitar. Karena bukan keinginanku masuk sekolah itu, aku gak terlalu inget gimana masa-masaku di sekolah itu. Yang aku inget, semua guru matematika di sekolah itu gak ada 1 pun yang baik hati. Galak dan suka bentak. Sampe akhirnya, mungkin itu salah satu faktor kenapa aku gak lulus UAN tingkat SMP tahun 2005. Sampe abah, maksa aku sekolah di sebuah sekolah swasta yang ada pesantrennya, Al Mawaddah 2 Blitar. Disinilah aku merasa memulai hidup baru- 
Coming Soon ^_^

Sabtu, 22 Desember 2012

Hear Me


Aku tidak berharap banyak dia akan membaca ini sampai selesai, aku tahu ini tidak akan berarti apa-apa untuknya. Aku bahkan tak tahu apa dia masih menganggapku teman atau masa lalunya sebagai sampah.
Tapi aku senang bisa mengenalnya, dan aku sangat berterima kasih pada Allah untuk hal ini. Ucapan dan syukur yang tiada henti. Aku hanya akan menepati janjiku untuk memberikan hadiah ulang tahun pada semua sahabat-sahabatku di tahun 2013 ini.

Untuk yang pertama kalinya aku punya sahabat seorang anak laki-laki, dia sangat lebih tinggi dariku, mata elangnya yang sipit, senyumnya manis, dia yang selalu memakai jaket kemana pun dia pergi dan dia adalah seorang anak laki-laki yang berbakti pada orang tuanya. Dulu dia sangat suka dengan warna biru gelap, dia bahkan punya seorang kakak perempuan yang manis. Meskipun aku hanya bertemu kakaknya sekali dan aku tidak bisa mengingat wajahnya, tapi aku sangat yakin kakaknya jauh lebih manis. ^^

Kami bertemu di sebuah lembaga kecil yang mengajarkan kami belajar kitab-kitab seperti pondok-pondok salafiyah. Semua anak akan pergi ke tempat itu setelah menunaikan sholat maghrib.
Awalnya aku tidak tahu menahu bagaimana aku harus belajar dengan kitab-kitab yang bertuliskan arab tanpa kharokat, disanalah aku belajar dan aku mulai bisa memahami maksud belajar kitab-kitab itu.

Anak laki-laki itu adalah kakak kelasku, saat pertama kali melihatnya…dia lebih banyak diam, tapi aku masih bisa melihat senyumnya saat dia bercanda dengan teman-temannya. Aku hanya ingin punya banyak teman dan benar saja aku mengenal seorang anak perempuan cantik yang rumahnya tak jauh dari lembaga itu. Kami duduk sebangku dan kami selalu bersama. Saat kenaikan kelas, entah kenapa aku selalu ingin memperhatikan anak laki-laki itu. Aku bahkan tak mengerti apa yang menarik dari dia, hanya saja saat melihatnya tersenyum, hatiku merasa sangat senang.

Kulihat, dia terlihat sangat dekat dengan adikku dan temannya. Aku tak pernah tahu apa yang mereka lakukan, tapi adikku bercerita. Ternyata anak laki-laki menyukai salah seorang teman adikku yang juga temanku bermain di rumah. Adikku dan temannya hanya sebagai perantara antara mereka berdua. Adikku mulai mengeluh, dia merasa lelah karena harus menjadi tukang pos setiap hari untuk menyampaikan pesannya dari anak laki-laki itu ke temannya.

Namun, akhirnya anak laki-laki itu tahu satu hal, bahwa cintanya di tolak. Aku tak bisa melihat bagaimana kecewanya dia saat itu, dia bahkan lebih banyak diam. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, hatiku berkehendak sangat ingin mengembalikan senyumnya lagi. Aku berpikir sejenak itu tidak akan mungkin, karena dia tidak mengenalku. Bagaimana aku bisa mengembalikan senyumnya? Hingga anak perempuan yang di sukainya, menitipkan sepucuk surat kepadaku untuk anak laki-laki itu. Aku tak habis pikir, kenapa dia menitipkannya padaku. Sedang dia tidak mengenalku, tapi aku selalu merasa mengenalnya sejak pertama bertemu.

Aku tak tahu apa isi surat itu, yang jelas sejak dia menerima surat itu. Dia seperti bisa bernafas lega, hingga akhirnya ku beranikan memberinya surat. Di surat itu aku bercerita banyak tentang anak perempuan yang dia sukai, dan dia membalas suratku. Sejak saat itu, kami memang lebih dekat. Tapi entah kenapa meskipun dia sudah tahu namaku, dia jarang sekali memanggil namaku. Yang ku ingat, hanya sekali saja dia memanggil namaku.

Waktu itu, abah sangat tidak suka jika anak perempuannya bermain dengan anak laki-laki. Aku selalu ingin pergi ke tempat mengaji bersamanya, tapi saat itu kami hanya sering pulang bersama. Jika ada waktu, dia main ke kelasku dan kami bicara tentang banyak hal. Saat itulah, aku benar-benar merasa sangat nyaman berteman dengannya, aku bahkan berjanji tak akan menyakiti hatinya dan tak ingin kehilangannya. Anak laki-laki yang selalu pesimis dengan dirinya sendiri, yang sulit percaya pada dirinya sendiri.

Lama kami berteman, hingga sahabat baikku di sekolah yang kebetulan masih saudara dengan anak laki-laki itu ikut belajar di lembaga kecil itu. Aku banyak bercerita tentang anak laki-laki yang ternyata sudah dia anggap sebagai kakak itu. Dan ku rasa dia bukan pendengar yang baik, karena dia selalu memotong ucapanku saat bercerita, aku tahu mungkin itu sangat membosankan setiap hari harus menceritakan orang yang sama.

Hingga muncul kabar burung, tentang kedekatan kami. Semua anak di lembaga itu mempertanyakan hubungan kami. Aku selalu bilang kami hanya sahabat dekat, tapi banyak dari mereka yang tidak percaya dengan kata-kata. Aku tak tahu bagaimana dengan dia, saat kami pulang bersama aku tak pernah sempat menanyakan hal itu. Tapi ku harap, dia tidak akan mmenjauhiku hanya karena kabar burung itu.

Entah kenapa, karena kabar burung itu. Pikiranku mulai kalut, aku sudah cukup lama berteman dengannya dan meskipun hatiku mengatakan aku menyukainya, tapi aku selalu berusaha menepisnya. Aku tak ingin kehilangan sahabat baikku, dia anak laki-laki yang sulit di tebak perasaannya, dia sangat misterius bagiku, dia jarang sekali menceritakan kehidupannya. Tapi dia selalu menyuruhku bercerita banyak hal tentang kehidupanku.

Saat dia tidak mengaji, betapa khawatirnya aku saat itu. Aku mencoba menghubunginya dengan ponsel milik abah, bahkan aku meneleponnya dengan telepon rumah dengan sembunyi-sembunyi. Dia memang sering sekali sakit dan yang aku tahu dia mudah sekali terserang demam. Dan jika hujan tiba, aku tahu aku akan sangat merindukannya, karena sehari saja tak melihatnya rasanya hariku akan berakhir dengan mimpi buruk malam itu juga. Namun, aku selalu berdoa untuknya, apapun yang dia lakukan saat itu, aku harap tak akan ada kesalahan yang dia lakukan, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Karena dia sahabatku. Walaupun aku menyukainya lebih dari itu, tapi aku harap dia tetap akan menjadi sahabat baikku. Seperti yang dia katakan " Sampai salah satu di antara kita masuk liang lahat " dan aku tak pernah tahu siapa di antara kami yang akan masuk liang lahat lebih dulu. Tapi aku harap di kehidupan mendatang, dia tetap sahabatku.

Setiap hari ulang tahunnya, aku selalu ingin memberikannya hadiah persahabatan. Aku tak pernah tahu dia suka atau tidak, yang ku tahu hadiah itu akan menjadi miliknya dan dia akan mengingatku juga sebagai sahabat baiknya. Tapi jika di masa mendatang dia membenciku dan melupakanku, atau bahkan aku tidak bisa menemuinya lagi aku hanya akan meminta maaf dan berterima kasih padanya. Hanya hadiah kecil untuk terakhir kalinya. Aku berjanji akan memberikan hadiah persahabatan terakhir saat dia menikah, tapi aku yakin dia tidak akan pernah memberi tahuku kapan dia akan menikah. Jadi aku akan memberikan hadiah itu saat usianya menginjak 25 tahun.

Ketika untuk pertama kalinya menerima hadiah darinya, aku merasa besok akan sangat cerah. Dan aku akan melakukan semua pekerjaanku dengan semangat. Tapi ternyata duniaku justru terasa berbalik 300 derajat, jauh dari ukuran normal. Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya, dia mulai menjauhiku. Aku tahu ini tidak akan bertahan lama seperti yang dia katakan. Seharusnya tak akan apa-apa bagiku melihat sahabatku yang mulai dekat dengan perempuan yang mungkin dia sukai. Tapi kenapa saat itu, ulu hatiku terasa begitu sakit, bahkan aku sulit bernafas menahan sakit itu.

Dan bagaimana mungkin perempuan yang juga lebih tua dari anak laki-laki itu, mengatakan padaku agar aku tidak khawatir dengan kedekatannya dengan anak laki-laki itu. Tentu aku bilang aku tidak akan khawatir, meskipun perempuan cantik itu tidak mengatakan hanya bersahabat dengan anak laki-laki yang menjadi sahabatku. Tapi dia mengatakan, bahwa mereka hanya bersahabat dan aku sangat percaya itu.

Setelah lulus MTs, aku harus masuk pesantren dan meninggalkan tempat itu dan semua yang ada di sana. Aku bilang, aku akan sering datang untuk berkunjung dan melihat keadaan teman-temanku terutama sahabat-sahabatku. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi selama 2 minggu aku pergi, aku menemukan ke ganjalan yang tidak biasa di tempat itu. Tempat itu, terlihat lebih sepi dan tidak seramai biasanya. Hingga aku mendengar kabar tentang hubungan sahabatku dengan gadis cantik itu.

Sejak saat itu, duniaku benar-benar abu-abu. Aku tidak bisa begitu saja mempercayai orang, aku bahkan mulai tidak percaya dengan keluargaku sendiri. Aku hanya bisa menangis dan berharap tidak akan bertemu dengannya hingga akhir hayatku, tanpa pikir panjang bahkan aku membakar semua tulisan tangannya dan buku harianku yang ku tulis setiap hari semua tentangnya. Hanya ada 1 buku yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di lemari, aku tahu saat itu mungkin aku sudah sangat gila. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Aku menganggap diriku tidak tahu malu, berani-beraninya aku menyukai sahabatku sendiri. Seharusnya aku senang, karena sahabatku sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Waktu itu, setelah beberapa tahun lamanya tak pernah melihatnya. Aku mendengar berita kematian ayahnya, ayahnya yang begitu baik dan sabar itu meninggalkan dia dan keluarganya. Aku berpikir keras untuk melakukan hal yang sama saat dia patah hati, tapi aku rasa cara apapun akan sangat sulit. Karena dia sendiri sepertinya tidak mau melihatku. Hanya doa untuk ayah dan keluarganya yang ku panjatkan, semoga tak akan ada lagi kesedihan yang menimpa keluarga. Walau pun aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi, yang ku harapkan hanya dia tetap bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.

Saat itu dan hingga sekarang, aku memutuskan untuk tetap mendoakannya. Tidak bertemu, tidak akan apa-apa. Meskipun sulit menemukan sahabat seperti dia, tapi itu pilihannya dan aku akan tetap mendoakannya.

Sekarang, aku menepati janjiku. Usianya sudah menginjak 25 tahun, ini adalah hadiah persahabatan terakhir yang aku persembahkan hanya untuknya. Mungkin terlalu cepat mempersiapkan semua ini, karena aku sendiri tak pernah tahu apakah masih ada waktu untukku melihatnya sudah begitu dewasa di usianya yang ke 25 ini.

Untuk sahabat terbaikku, dan My First Dear Prince 
ANDIKA DONI PRASETYO si TENTARA MASA DEPAN
SELAMAT ULANG TAHUN yang ke 25

Jumat, 07 Desember 2012

Mr. Children (Mr. 칠드런) - Summer Dream (OST Mr. Idol (Mr. 아이돌)) Lyrics


부드러운 파도소리
budeuroun jo padosori
그보다 좋은 너의 목소리
geuboda do joheun gon noye moksori
한발만 다가와 나와 함께 달려보자
hanbalman do dagawa nawa hamkke dallyoboja
우리 꿈꾸던 곳으로
uri kkumkkudon geu goseuro

포근한 바람소리
pogeunhan i baramsori
나를 찾아주는 익숙한 목소리
nareul chajajuneun iksukhan moksori
꿈처럼 달콤하게 그보다 행복하게
kkumchorom dalkomhage geuboda do hengbokhage
네가 있어 웃고 있어
nega isso nan utgo isso

summer dream
영원히 달콤한 멜로디
summer dream yongwonhi dalkomhan geu melody
feel your dream
너와 이렇게 함께 가자
feel your dream nowa na iroke hamkke gaja
때론 아파도 괜찮아 쓰러져도 괜찮아
tteron apado gwenchana sseurojyodo gwenchana
내가 있잖아 영원히 함께 summer dream
nega itjana yongwonhi hamkke hal summer dream

빛나는 별처럼
jo bitnaneun byolchorom
I'M GONNA SHINE ONEDAY
승리의 위해 오늘도 꿈을 향해
seungniye geu nal wihe nan oneuldo kkumeul hyanghe
나는 포기 하지 않아 절대 멈추지 않아
naneun pogi haji ana jolde momchuji ana
수천번 쓰러져도 다시 일어나는 warrior
suchonbon sseurojyodo dasi ironaneun warrior

뜨거운 태양처럼
tteugoun teyang chorom
너와 만큼 빛나는 별처럼
nowa na kkum mankeum bitnaneun byol chorom
조금만 힘을 나와 함께 달려보자
jogeumman himeul ne nawa hamkke dallyoboja
우릴 부르는 곳으로
uril bureuneun geu goseuro

summer dream
영원히 달콤한 멜로디
summer dream yongwonhi dalkomhan geu melody
feel your dream
너와 이렇게 함께 가자
feel your dream nowa na iroke hamkke gaja
때론 아파도 괜찮아 쓰러져도 괜찮아
tteron apado gwenchana sseurojyodo gwenchana
내가 있잖아 영원히 함께 summer dream
nega itjana yongwonhi hamkke hal summer dream

let's take it to the top
눈을 감고 상상해
du nuneul gamgo sangsanghe bwa
끝없이 펼쳐진 바다처럼 꿈을 펼쳐봐
kkeutobsi pyolchyojin bada chorom kkumeul pyolchyobwa
it's gonna be okay
울지 말고 힘내
it's gonna be okay ulji malgo himne
우리에겐 기다리고 있어 밝은 미래
uriegen gidarigo isso balgeun mire
OK

summer dream
영원히 달콤한 멜로디
summer dream yongwonhi dalkomhan geu melody
feel your dream
너와 이렇게 함께 가자
feel your dream nowa na iroke hamkke gaja
때론 아파도 괜찮아 쓰러져도 괜찮아
tteron apado gwenchana sseurojyodo gwenchana
내가 있잖아 영원히 함께 summer dream
nega itjana yongwonhi hamkke hal summer dream