Sabtu, 22 Desember 2012

Hear Me


Aku tidak berharap banyak dia akan membaca ini sampai selesai, aku tahu ini tidak akan berarti apa-apa untuknya. Aku bahkan tak tahu apa dia masih menganggapku teman atau masa lalunya sebagai sampah.
Tapi aku senang bisa mengenalnya, dan aku sangat berterima kasih pada Allah untuk hal ini. Ucapan dan syukur yang tiada henti. Aku hanya akan menepati janjiku untuk memberikan hadiah ulang tahun pada semua sahabat-sahabatku di tahun 2013 ini.

Untuk yang pertama kalinya aku punya sahabat seorang anak laki-laki, dia sangat lebih tinggi dariku, mata elangnya yang sipit, senyumnya manis, dia yang selalu memakai jaket kemana pun dia pergi dan dia adalah seorang anak laki-laki yang berbakti pada orang tuanya. Dulu dia sangat suka dengan warna biru gelap, dia bahkan punya seorang kakak perempuan yang manis. Meskipun aku hanya bertemu kakaknya sekali dan aku tidak bisa mengingat wajahnya, tapi aku sangat yakin kakaknya jauh lebih manis. ^^

Kami bertemu di sebuah lembaga kecil yang mengajarkan kami belajar kitab-kitab seperti pondok-pondok salafiyah. Semua anak akan pergi ke tempat itu setelah menunaikan sholat maghrib.
Awalnya aku tidak tahu menahu bagaimana aku harus belajar dengan kitab-kitab yang bertuliskan arab tanpa kharokat, disanalah aku belajar dan aku mulai bisa memahami maksud belajar kitab-kitab itu.

Anak laki-laki itu adalah kakak kelasku, saat pertama kali melihatnya…dia lebih banyak diam, tapi aku masih bisa melihat senyumnya saat dia bercanda dengan teman-temannya. Aku hanya ingin punya banyak teman dan benar saja aku mengenal seorang anak perempuan cantik yang rumahnya tak jauh dari lembaga itu. Kami duduk sebangku dan kami selalu bersama. Saat kenaikan kelas, entah kenapa aku selalu ingin memperhatikan anak laki-laki itu. Aku bahkan tak mengerti apa yang menarik dari dia, hanya saja saat melihatnya tersenyum, hatiku merasa sangat senang.

Kulihat, dia terlihat sangat dekat dengan adikku dan temannya. Aku tak pernah tahu apa yang mereka lakukan, tapi adikku bercerita. Ternyata anak laki-laki menyukai salah seorang teman adikku yang juga temanku bermain di rumah. Adikku dan temannya hanya sebagai perantara antara mereka berdua. Adikku mulai mengeluh, dia merasa lelah karena harus menjadi tukang pos setiap hari untuk menyampaikan pesannya dari anak laki-laki itu ke temannya.

Namun, akhirnya anak laki-laki itu tahu satu hal, bahwa cintanya di tolak. Aku tak bisa melihat bagaimana kecewanya dia saat itu, dia bahkan lebih banyak diam. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, hatiku berkehendak sangat ingin mengembalikan senyumnya lagi. Aku berpikir sejenak itu tidak akan mungkin, karena dia tidak mengenalku. Bagaimana aku bisa mengembalikan senyumnya? Hingga anak perempuan yang di sukainya, menitipkan sepucuk surat kepadaku untuk anak laki-laki itu. Aku tak habis pikir, kenapa dia menitipkannya padaku. Sedang dia tidak mengenalku, tapi aku selalu merasa mengenalnya sejak pertama bertemu.

Aku tak tahu apa isi surat itu, yang jelas sejak dia menerima surat itu. Dia seperti bisa bernafas lega, hingga akhirnya ku beranikan memberinya surat. Di surat itu aku bercerita banyak tentang anak perempuan yang dia sukai, dan dia membalas suratku. Sejak saat itu, kami memang lebih dekat. Tapi entah kenapa meskipun dia sudah tahu namaku, dia jarang sekali memanggil namaku. Yang ku ingat, hanya sekali saja dia memanggil namaku.

Waktu itu, abah sangat tidak suka jika anak perempuannya bermain dengan anak laki-laki. Aku selalu ingin pergi ke tempat mengaji bersamanya, tapi saat itu kami hanya sering pulang bersama. Jika ada waktu, dia main ke kelasku dan kami bicara tentang banyak hal. Saat itulah, aku benar-benar merasa sangat nyaman berteman dengannya, aku bahkan berjanji tak akan menyakiti hatinya dan tak ingin kehilangannya. Anak laki-laki yang selalu pesimis dengan dirinya sendiri, yang sulit percaya pada dirinya sendiri.

Lama kami berteman, hingga sahabat baikku di sekolah yang kebetulan masih saudara dengan anak laki-laki itu ikut belajar di lembaga kecil itu. Aku banyak bercerita tentang anak laki-laki yang ternyata sudah dia anggap sebagai kakak itu. Dan ku rasa dia bukan pendengar yang baik, karena dia selalu memotong ucapanku saat bercerita, aku tahu mungkin itu sangat membosankan setiap hari harus menceritakan orang yang sama.

Hingga muncul kabar burung, tentang kedekatan kami. Semua anak di lembaga itu mempertanyakan hubungan kami. Aku selalu bilang kami hanya sahabat dekat, tapi banyak dari mereka yang tidak percaya dengan kata-kata. Aku tak tahu bagaimana dengan dia, saat kami pulang bersama aku tak pernah sempat menanyakan hal itu. Tapi ku harap, dia tidak akan mmenjauhiku hanya karena kabar burung itu.

Entah kenapa, karena kabar burung itu. Pikiranku mulai kalut, aku sudah cukup lama berteman dengannya dan meskipun hatiku mengatakan aku menyukainya, tapi aku selalu berusaha menepisnya. Aku tak ingin kehilangan sahabat baikku, dia anak laki-laki yang sulit di tebak perasaannya, dia sangat misterius bagiku, dia jarang sekali menceritakan kehidupannya. Tapi dia selalu menyuruhku bercerita banyak hal tentang kehidupanku.

Saat dia tidak mengaji, betapa khawatirnya aku saat itu. Aku mencoba menghubunginya dengan ponsel milik abah, bahkan aku meneleponnya dengan telepon rumah dengan sembunyi-sembunyi. Dia memang sering sekali sakit dan yang aku tahu dia mudah sekali terserang demam. Dan jika hujan tiba, aku tahu aku akan sangat merindukannya, karena sehari saja tak melihatnya rasanya hariku akan berakhir dengan mimpi buruk malam itu juga. Namun, aku selalu berdoa untuknya, apapun yang dia lakukan saat itu, aku harap tak akan ada kesalahan yang dia lakukan, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Karena dia sahabatku. Walaupun aku menyukainya lebih dari itu, tapi aku harap dia tetap akan menjadi sahabat baikku. Seperti yang dia katakan " Sampai salah satu di antara kita masuk liang lahat " dan aku tak pernah tahu siapa di antara kami yang akan masuk liang lahat lebih dulu. Tapi aku harap di kehidupan mendatang, dia tetap sahabatku.

Setiap hari ulang tahunnya, aku selalu ingin memberikannya hadiah persahabatan. Aku tak pernah tahu dia suka atau tidak, yang ku tahu hadiah itu akan menjadi miliknya dan dia akan mengingatku juga sebagai sahabat baiknya. Tapi jika di masa mendatang dia membenciku dan melupakanku, atau bahkan aku tidak bisa menemuinya lagi aku hanya akan meminta maaf dan berterima kasih padanya. Hanya hadiah kecil untuk terakhir kalinya. Aku berjanji akan memberikan hadiah persahabatan terakhir saat dia menikah, tapi aku yakin dia tidak akan pernah memberi tahuku kapan dia akan menikah. Jadi aku akan memberikan hadiah itu saat usianya menginjak 25 tahun.

Ketika untuk pertama kalinya menerima hadiah darinya, aku merasa besok akan sangat cerah. Dan aku akan melakukan semua pekerjaanku dengan semangat. Tapi ternyata duniaku justru terasa berbalik 300 derajat, jauh dari ukuran normal. Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya, dia mulai menjauhiku. Aku tahu ini tidak akan bertahan lama seperti yang dia katakan. Seharusnya tak akan apa-apa bagiku melihat sahabatku yang mulai dekat dengan perempuan yang mungkin dia sukai. Tapi kenapa saat itu, ulu hatiku terasa begitu sakit, bahkan aku sulit bernafas menahan sakit itu.

Dan bagaimana mungkin perempuan yang juga lebih tua dari anak laki-laki itu, mengatakan padaku agar aku tidak khawatir dengan kedekatannya dengan anak laki-laki itu. Tentu aku bilang aku tidak akan khawatir, meskipun perempuan cantik itu tidak mengatakan hanya bersahabat dengan anak laki-laki yang menjadi sahabatku. Tapi dia mengatakan, bahwa mereka hanya bersahabat dan aku sangat percaya itu.

Setelah lulus MTs, aku harus masuk pesantren dan meninggalkan tempat itu dan semua yang ada di sana. Aku bilang, aku akan sering datang untuk berkunjung dan melihat keadaan teman-temanku terutama sahabat-sahabatku. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi selama 2 minggu aku pergi, aku menemukan ke ganjalan yang tidak biasa di tempat itu. Tempat itu, terlihat lebih sepi dan tidak seramai biasanya. Hingga aku mendengar kabar tentang hubungan sahabatku dengan gadis cantik itu.

Sejak saat itu, duniaku benar-benar abu-abu. Aku tidak bisa begitu saja mempercayai orang, aku bahkan mulai tidak percaya dengan keluargaku sendiri. Aku hanya bisa menangis dan berharap tidak akan bertemu dengannya hingga akhir hayatku, tanpa pikir panjang bahkan aku membakar semua tulisan tangannya dan buku harianku yang ku tulis setiap hari semua tentangnya. Hanya ada 1 buku yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di lemari, aku tahu saat itu mungkin aku sudah sangat gila. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Aku menganggap diriku tidak tahu malu, berani-beraninya aku menyukai sahabatku sendiri. Seharusnya aku senang, karena sahabatku sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Waktu itu, setelah beberapa tahun lamanya tak pernah melihatnya. Aku mendengar berita kematian ayahnya, ayahnya yang begitu baik dan sabar itu meninggalkan dia dan keluarganya. Aku berpikir keras untuk melakukan hal yang sama saat dia patah hati, tapi aku rasa cara apapun akan sangat sulit. Karena dia sendiri sepertinya tidak mau melihatku. Hanya doa untuk ayah dan keluarganya yang ku panjatkan, semoga tak akan ada lagi kesedihan yang menimpa keluarga. Walau pun aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi, yang ku harapkan hanya dia tetap bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.

Saat itu dan hingga sekarang, aku memutuskan untuk tetap mendoakannya. Tidak bertemu, tidak akan apa-apa. Meskipun sulit menemukan sahabat seperti dia, tapi itu pilihannya dan aku akan tetap mendoakannya.

Sekarang, aku menepati janjiku. Usianya sudah menginjak 25 tahun, ini adalah hadiah persahabatan terakhir yang aku persembahkan hanya untuknya. Mungkin terlalu cepat mempersiapkan semua ini, karena aku sendiri tak pernah tahu apakah masih ada waktu untukku melihatnya sudah begitu dewasa di usianya yang ke 25 ini.

Untuk sahabat terbaikku, dan My First Dear Prince 
ANDIKA DONI PRASETYO si TENTARA MASA DEPAN
SELAMAT ULANG TAHUN yang ke 25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar