Selasa, 04 Juni 2013

Sampai Detik Ini...


 Bu, sampai saat ini aku tak pernah bisa melihatmu meskipun aku ingin dan rasa sakit itu selalu menjadi sengatan terhebat yang pernah aku rasakan selama hidupku. Bu, aku tahu ini akan sangat sulit untukmu. Tapi perasaan ini mengalahkan segalanya, aku marah dan benci pada wanita yang melahirkan dan membesarkanku selama 25 tahun.

Mimpi buruk itu tiba-tiba terulang kembali dalam ingatanku, dimana ayah tiriku datang dalam keadaan mabuk berat dan mencoba membunuhku saat ibu tak ada di rumah dan rumah dalam keadaan sepi. Aku yang saat itu sedang membereskan kamarku, benar-benar ketakutan karena untuk pertama kalinya berhadapan dengan pria tua yang membawa pisau dan berusaha menghujamkannya ke tubuhku. Meski rasa takutku semakin menjadi, aku berusaha sekuat tenaga agar pria mabuk itu menghentikan keinginannya menusukku. Aku berteriak minta tolong beberapa kali dan tak seorang pun datang, mata tajam pria tua itu semakin membuatku takut dan menangis. Dia terus bergumam “Dasar gadis bodoh, gak berguna! Mati aja sana “. Ku pikir pria ini memang sudah gila, kenapa dia terlihat sangat membenciku saat itu. Ibu yang tiba-tiba datang sempat mencoba menghentikan perbuatan ayah tiriku, dan hasilnya ibuku mendapat pukulan keras tangan kekar pria tua itu. Ibu bergegas mengubungi polisi, dan saat polisi datang aku sudah berhasil melumpuhkan ayah tiriku. Dengan posisi tanganku yang bersimbah darah dan pisau hasil rebutanku dengan pria kejam ini. Pria tua kejam itu sudah terkapar tak bernyawa dengan darah di bagian dadanya yang terus mengalir. Aku bingung, takut dan gemetar hebat, aku tak pernah ingin membunuh siapa pun, bu.

Inilah kisahku, kisah pahit seorang perempuan menyedihkan yang hidup di antara keluarga yang menyedihkan juga. Sejak 3 tahun lalu, aku harus menghadapi kejamnya hidup di balik jeruji penjara wanita. Aku masih sangat trauma dan takut saat pertama kali masuk ke dalam ruangan pengap yang penuh dengan bau tidak sedap. Ibuku lah yang berhasil memaksaku menikmati hari-hari kelam di penjara. Aku mencintainya, dulu. Dan aku sangat membencinya, sekarang.

“ Arlina… keluarlah! Ibumu datang menjengukmu “ ujar salah seorang polisi wanita yang berjaga saat itu, sambil membuka gembok jeruji. Aku terdiam, “ Aku gak mau! “ jawabku tegas, sebelumnya aku sudah sering mengatakan pada setiap polisi wanita yang berjaga, bahwa aku tidak akan menemui siapa pun yang datang menjengukku, terutama ibu. Saat itu aku benar-benar sangat marah dan tidak kuasa melampiaskan amarahku pada siapa pun, termasuk polisi wanita bernama Gita yang tidak lain adalah sahabatku sejak SD ini. 

Ibu selalu datang dengan sebuah kotak makanan yang selalu dia siapkan setiap kali datang menjengukku. “Bu, jangan semakin membuat mataku kering. Air mataku sudah habis terkuras hanya untukmu, tidak bisakah ibu membiarkan aku bahagia meskipun di dalam penjara. Jangan pernah datang lagi, anggap saja anakmu sudah mati. Aku tak ingin kebencianku semakin memuncak saat melihat ibu datang dan pulang dengan perasaan kecewa. Aku tak pernah tahu, sampai kapan aku akan seperti ini…”

Hari dimana untuk yang kesekian kalinya sidang kasusku, ibu datang sebagai saksi dan mengatakan akan melakukan apa pun untuk membebaskanku dari penjara. Gita juga berkata, bahwa dia sering melihat ibuku berjualan makanan di dekat kantor polisi. Gita selalu memperhatikan apa pun yang ibuku lakukan, sampai aku benar-benar tak akan melihatnya lagi. Gita menemukan ibuku terkapar tak bernyawa di depan kantor polisi saat hujan deras melanda. Lengkap dengan bekal yang biasa ibu bawa untukku dan sepucuk surat dari ibu yang mengatakan bahwa “…Gunakan waktumu sebaik mungkin untuk berbuat baik selama di penjara, nak! Ibu berjanji akan segera mengeluarkanmu, ibu tidak tahan jauh dari putri ibu satu-satunya. Untuk terakhir kalinya ibu minta maaf, nak! Maafkan ibu…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar