Senin, 24 September 2012

The Time Passed Way


Kisah tentang aku, aku adalah Zahwa. Zahwa yang gokil, Zahwa yang cerewet, Zahwa yang tomboy, Zahwa yang murah senyum, Zahwa yang aneh dan berbagai aksi sebutan untukku, itulah aku. Ibuku bilang, aku tak cantik, aku bahkan terlalu kurus untuk ukuran gadis 20 tahun ke atas. Ayahku bilang, aku tak cerdas, aku bahkan tak mampu melihat mata pelajaran angka seumur hidupku. Aku Zahwa yang fobia dengan matematika, Zahwa yang sangat cinta dengan kedamaian, suka menyendiri dan hidup apa adanya, aku Zahwa yang di bodohi oleh cinta pertamaku dengan penantian panjang 8 tahun yang tak pasti hingga kini. Dan kisah ini juga tentang orang-orang di sekitarku, tentang adik perempuanku yang bagai bidadari surga, punya segalanya yang laki-laki inginkan, cantik, cerdas, dewasa dan stylenya yang selalu apa adanya laksana muslimah sempurna. Tentang sahabat-sahabatku dan cinta mereka, aku hanya bagian dari segelintir penyambung kisah mereka.
Untuk melupakan masa lalu dengan cinta pertamaku yang 
tak berujung hingga kini, aku mencoba membuka hati untuk siapapun yang kian tulus memberikan hatinya untukku. Namun, dari sekian banyak hati yang datang mereka justru tak mampu berpaling dari sosok Zahra ( adikku ). Saat itulah aku mulai sadar, bahwa tak akan ada seorang pun yang datang untukku. Zahwa yang sendiri dan entah sampai kapan akan tetap sendiri.
Dua puluh satu tahun bukan usia muda untuk tidak punya pasangan, tapi inilah yang terjadi padaku. Aku selalu bermimpi menjadi psikolog muda yang bisa membantu orang lain dan belajar tentang hidup dari masalah-masalah yang mereka alami. Namun, di sisi lain aku bukan hanya sebuah tempat sampah untuk masalah yang mereka hadapi, aku juga gadis biasa yang membutuhkan perhatian lebih untuk setiap masalah yang ku hadapi. Aku dan Tuhan, tapi aku juga butuh seseorang untuk mencurahkan setiap keluh kesahku.
Setahun yang lalu aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki baik, dia seorang ustad yang pada hakikatnya seiman dan sempurna dalam sisi agama. Tapi aku tak pernah merasa sangat nyaman saat bersamanya, yang ku rasakan hanya takut dan kadang perasaan kesal selalu menghiasi pertemuan kami. Ku pikir, kenapa aku mudah sekali naik darah setiap bicara atau adu argumentasi dengannya.   Dan ternyata, terjawablah pertanyaan yang terselip dalam otakku selana setahun ini. Dia bukan tipe orang yang mau mendengarkan, tapi selalu ingin di dengar. Dia bahkan terlalu banyak bertanya untuk hal-hal yang ku anggap tak perlu di tanyakan, dia belum bisa memahami perasaan seorang perempuan, bahkan jika aku marah dia akan marah. Aku sempat frustasi menghadapinya, sedang banyak dari orang di sekitarku yang selalu menceritakan masalah mereka padaku. Aku selalu berusaha professional untuk hal ini, bagaimana pun mood ku, solusi terbaik ku usahakan untuk mereka yang membutuhkan.
Saat ini, aku benar-benar di rundung kegalauan yang amat sangat ketika aku memutuskan untuk pisah dengannya. Karena ku pikir, tak ada laki-laki lain yang setulus dia dan dia bahkan terbiasa saat melihat Zahra, dia satu-satunya laki-laki yang tak tergoda oleh kecantikan Zahra. Namun, aku sendiri tak tahan dengan sikapnya yang lebih suka dengan dunianya sendiri. Cukup sudah, ku tutup hatiku untuk saat ini dan aku tak akan menaruh hati pada siapapun. Aku terdiam tanpa kata sekarang, yang bisa ku lakukan hanya senang melihat mereka yang terlihat bahagia atas cinta yang mereka dapatkan.
Walaupun banyaknya pujangga Turki yang mendekati Zahra, dia tak akan tergoda hanya dengan kata-kata. Dia bahkan tak akan mudah menyerahkan hatinya pada siapapun, karena sudah lebih dari 3 kali hatinya tersakiti. Dan kali ini, sahabatku Ahmad. Dia mengungkapkan isi hatinya padaku setelah melihat Zahra untuk yang pertama kalinya, ku pikir itu wajar karena setiap laki-laki pasti akan merasakan hal yang sama saat melihat Zahra. Namun, Ahmad bersikukuh bahwa perasaannya itu tak sebanding hanya dengan hanya melihat kecantikan Zahra semata, dia merasakan sesuatu yang lain dan dia bilang sebelumnya tak pernah ada perasaan itu pada gadis-gadis yang pernah mengisi hatinya.
Awalnya aku hanya melihat Ahmad sekilas dari wujudnya yang tak sebanding dengan Zahra, tapi setelah beberapa lama ku perhatikan. Dia memang layak mendapatkan Zahra dan Zahra pasti membutuhkan seseorang seperti Ahmad yang mampu memberinya perhatian lebih dan semangatnya dalam melantunkan dan menghafal kalamullah karena Ahmad juga seorang hafidz. Saat itulah aku yakin Ahmad akan memberikan yang terbaik untuk Zahra dank u putuskan untuk membantu Ahmad. Cukup sulit memang mempersatukan dua insan yang hanya berat sebelah, Ahmad yang sejak awal sudah jatuh hati pada Zahra sedangkan Zahra mengatakan pada Ahmad bahwa dia tak ingin menjalin hubungan lagi karena dia tak ingin sakit untuk yang kesekian kalinya. Namun, penolakan Zahra berujung manis untuk Ahmad. Karena mereka justru semakin akrab dan Zahra mulai bisa memahami Ahmad sepenuhnya.
Cukup tenang hati ini bisa memberikan yang terbaik untuk mereka yang ku sayangi, walau berat aku mencoba untuk tetap ada pada diriku yang sekarang. Selanjutnya tentang Icha, sahabat karibku. Kisahnya hampir sama dengan Zahra, Icha tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun karena dia tak ingin merasakan sakit hati lagi dan tak ingin menyakiti, tapi Rosyad seorang laki-laki yang sejak awal mengenal Icha sudah sangat menyukai pribadi Icha yang nota bene adalah perempuan kuat di mata Rosyad. Sejak awal pula Icha sudah merasakan gelagat tidak enak di balik sikap Rosyad, terlebih sahabat dekat Rosyad ( Haris ) terlebih dulu menyatakan perasaannya pada Icha. Menghindar, itulah yang biasa dilakukan Icha saat seorang ikhwan membawanya dalam masalah percintaan yang menurutnya begitu rumit. Namun, entah kenapa dia justru dia tak bisa menghindar dari Rosyad. Hingga akhirnya Rosyad menyatakan apa yang dia rasakan pada Icha, Icha bingung dengan gelagat salah tingkah dan otaknya terus berpikir beras untuk menghindari Rosyad tanpa harus menyakitinya. Kebingungan Icha tak cukup sampai di situ, dia tambah di buat marah oleh sikap rekan-rekannya yang terkesan memojokkannya. Icha sangat tidak suka dengan sikap rekan-rrekannya itu, menunjukkan sikap marah pun percuma karena mereka akan tetap tertawa lepas melihat wajah lucu Icha ketika marah.
Setiap hari dan tanpa henti, dimana-mana sudah tersebar berita tentang kedekatan Icha dengan Rosyad, Icha benar-benar di rundung kebingungan yang tidak terkira. Icha terus bertanya padaku harus bagaimana dan berbuat apa. Dalam keadaan batinku yang tertekan, aku berusaha tetap menanggapi cerita hati Icha. Karena aku tahu, Icha pasti juga sangat menderita dengan perasaannya yang tidak karu-karuan itu. Dia ingin teriak, menangis dan mengatakan pada Rosyad untuk pergi dari kehidupannya. Tapi dia tak ingin melakukannya karena itu hanya akan menyakiti perasaan Rosyad yang terlalu transparan. Hingga akhirnya, tanpa sadar Icha mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak dia ucapkan. Dia sebenarnya tak pernah ingin mengatakan, “ Rosyad, gimana kalo kita pacaran aja?” ucapan Icha tersebut menjadi tajuk boomerang terhebat dalam hati Rosyad. “ Kamu serius? “ pertanyaan Rosyad tanpa nafas yang dia tahan untuk meyakinkan hatinya atas ucapan Icha. Icha masih belum yakin dengan ucapannya, dia takut akan merasakan yang namanya menyayangi Rosyad hingga sakit hati karena Rosyad.
Setelah berbagai nasehat yang ku coba untuk Icha dan Rosyad, akhirnya Icha mencoba meyakinkan Rosyad, bahwa apa yang dia ucapkan adalah benar meskipun sedikit terpaksa saat pertama kali mengucapkannya. Disinilah kisah mereka di mulai, kisah yang tak ada lagi kata sembunyi dari hidup dan kehidupan, kisah yang sebenarnya namun masih terkesan menerawang. Sayang, Icha dan Rosyad belum berani mengatakan tentang hubungan mereka pada rekan-rekan sejawat mereka yang sebenarnya sudah sangat menanti saat-saat hubungan mereka berlanjut. Hanya aku, Ahmad dan Zahra yang tahu tentang hal ini.
Sekarang aku bisa melihat, betapa bahagianya mereka. Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan ku rasa sekarang waktuku untuk menjauh dan menyelesaikan perasaanku sendiri. Tak ada yang aku ajak bicara saat ini, aku tertekuk dalam lingkaran hitam kekecewaan, sakit hati dan kerinduan padanya. Ulu hatiku terasa menjerat seluruh tubuh, menekan darah pada setiap denyut nadi. Aku menangis sendiri, “Allah..Allah..Allah..!! “ nama yang selalu ku ingat sampai saat ini. “ Ayah..Ibu..jika rasa sakit ini tak pernah hilang dari tubuhku, bagaimana aku mampu membahagiakan kalian? Sedang sampai saat ini, hanya kecewa yang ku bawa pada kalian, aku tak lebih baik dari Zahra dalam segi apapun. Yang ku yakini hanya 1 tentang rasa sayang dan hormatku pada kalian yang melebihi apapun. Maafkan Zahwa yang nista ini, biarkan Zahwa yang akan menanggung beban ini sendiri “ air mataku berderai deras mengalun dalam tangisku menahan tekanan batin yang mengoyak setiap saraf dalam tubuh ini.
Zahra, aku adalah adik kandung dari kakakku, Zahwa. Kakakku yang selalu kuat menghadapi hidupnya, kakakku yang selalu memberikan nasehat penting dalam hidup, kakakku yang kadang masih suka bersikap kekanak-kanakan, kakakku yang emosional tapi senyumnya selalu ada untuk rekan-rekannya. Kini, semua itu hanya tinggal bayangan. Dia harus pergi untuk selama-lamanya. Hatiku perih membaca setiap tulisan yang dia uraikan, tentang keluh kesahnya, bahagianya dan kekecewaannya. Bagaimana mungkin aku tak menyadari apa yang terjadi pada kakakku sendiri, ataukah mungkin hanya karena aku memandang dia rendah? Aku selalu menganggapnya tak jauh lebih baik dariku, aku punya segalanya yang di inginkan setiap orang. Kenapa aku selalu mengatakan kekurangannya yang jelas-jelas bisa membuat dia malu, tapi dia tak merasa malu sedikit pun.  
Seminggu sebelum kakak kembali ke rahmatullah, aku melihatnya menangis sendiri tanpa kawan. Dia terlihat sedih dan tangisnya tertahan di tenggorokan, aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Aku bahkan tak sanggup berbuat apa-apa, karena aku memilih sibuk sendiri dengan tugasku. Hingga aku tahu, saat itu kakak sedang menahan rasa sakit di ulu hatinya. Dia tak ingin ada yang tahu, termasuk ayah dan ibu. Bodohnya aku saat itu yang tak peduli dengan keadaannya, bagaimana mungkin dia menahan rasa sakit itu sendirian? Sampai pada saat tiga hari sebelum dia pergi, aku sempat bertengkar dengannya hanya karena kesalahan kecil yang seharusnya tak di perdebatkan. Waktu itu, dia benar-benar terlihat marah padaku karena kata-kata merendahkannya yang ku ucapkan dengan lantang di hadapannya.
Bagaimana aku bisa mengungkapkan setiap titik kesalahan yang pernah ku perbuat padanya? Egoku dan kesombonganku selalu ada untuknya, kenapa aku tak pernah bisa membantunya untuk cinta pertamanya yang tak pernah sampai hingga dia kembali menjadi tanah? Aku hanya bisa menangisi kepergiannya, aku tak mampu berbuat banyak saat jasadnya terkubur dalam liang lahat yang begitu gelap. “ Ya Allah…hambaMu yang dhoif ini memohon, berikanlah cahaya dalam kuburnya, maafkanlah segala dosa-dosanya!” aku tak kuasa menahan sakit ini, terlebih ibu yang jatuh bangun mengantar kepergian putri sulungnya.
Di barisan pelayat yang datang, aku melihat sosok Dika yang berdiri tertunduk. Raut wajahnya tak jauh beda dengan ayah yang terlihat tegar menghadapi kepergian Zahwa. Melihat perempuan yang selama 8 tahun menanti cintanya, walau akhirnya harus begini. Zahwa membawa mati cintanya hingga liang lahat, Dika terlihat menyesal dan merasa bersalah. “ Kenapa dia harus menungguku selama itu? Padahal dia tahu itu sangat berat “ kata-kata penyesalan yang sempat di ucapkan Dika padaku. ” Kakak jelas tahu itu sangat berat, tapi dia berusaha menghadapinya, karena dia tak bisa mengusir perasaan itu dari hatinya! Andai kamu, aku dan semua orang – orang terdekat kak Zahwa tahu tentang itu, aku yakin tak aka nada penyesalan sedalam ini “ jawabku yang terus berderai air mata, “ Semua sudah berlalu, biarlah kak Zahwa hidup tenang! Penyesalan tak pernah datang di awal sebuah kisah…” kak Ahmad mencoba menenangkanku yang terus menyalahkan diriku sendiri.
Akhir dari perjalanan panjang, hidup seorang Zahwa yang sangat mencintai hidupnya dengan berusaha membuat orang lain bahagia. Zahwa yang tak pernah ingin seorang pun terluka karenanya, Zahwa yang selalu tersenyum walau hatinya perih dan Zahwa yang mencoba kuat menghadapi hidupnya tanpa menyusahkan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar