Rabu, 06 April 2016

Harapan

Sampai sekarang aku benar-benar tidak yakin dengan kemampuan ku sendiri, bagaimana dan kapan  aku bisa membahagiakan orang tua ku. Jika memikirkan tentang wisuda, rasanya aku ingin terjun dari lantai 25. Kepala ku sakit, bahkan sekarang aku sedang menghindari ibu baik hati yang mau membantu ku menyelesaikan skripsi. Aku tak ingin melakukan ini tapi aku benar-benar melakukannya dan menundanya begitu lama.

Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Ingin teriak pun tak mampu. Otak ku rasanya penuh dengan banyak harapan yang ingin ku capai. Berapa milyar harta orang tua yang sudah ku habiskan untuk bersenang, berapa kali aku mengecewakan mereka, berapa kali aku berbohong. Semua itu tak dapat terhitung, aku bingung, pikiran ku kosong, hatiku pun tak bersuara. Aku benar-benar lelah sekarang, benar jika ini semua karena aku terlalu jauh dengan Tuhan ku. Namun, begitu sulit mendekatkan kembali.

Aku selalu meninggal kan apa yang aku benci, aku tidak pernah ingin bertemu dengan orang yang tidak aku suka. Apa yang aku harapkan? Jika masih ada harapan untukku, tapi aku mengabaikannya dengan hanya bersenang-senang. Tuhan, aku tahu aku salah, tapi kenapa begitu sulit memulai dan melanjutkan kebaikan yang ingin selalu aku lakukan.

Aku mulai benci dengan diri ku sendiri, aku terlahir bodoh dan selalu direndahkan. Bahkan dengan keluarga ku sendiri, dimana tempat terbaik yang bisa membuat ku lebih hidup. Tuhan, aku lelah. Tapi aku bukan satu-satunya orang yang paling menderita di dunia ini, masih banyak hal lain yang lebih sulit dan menyakitkan. Aku sadar dengan semua itu entah kenapa aku tidak mampu melakukannya dengan baik. Tuhan, aku lelah... 😥😥😥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar